Kubah terbang kebesaran Allah?

Salam secawan radix🙂

Kerna diri ini tidak punyai banyak masa untuk entri baru, lantas artikel ini menjadi ‘mangsa’ untuk kita lapah bersama.😀 Saya di saat ini sedang bergelut menyiapkan ‘assignment’ yang maha banyak.. Berpeluh juga ni.. Nah, artikel yang bagus untuk dikongsi bersama dari pemikir dan pemerhati yang bagus.. Itu saja. Bacalah! Selamat membaca dengan senyuman :)=

“Subhanallah, pokok itu rukuk!”

“MashaAllah telinga bayi ini membentuk perkataan ‘Allah'”

“Inilah kuasa Allah, kubah boleh terbang dengan zikir”

Rata-rata Muslim memandang sesuatu fenomena ajaib sebagai tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Asal ada saja kalimah Allah di langit, di bulan atau di mana-mana saja, cukup mudah untuk mulut ini menjustifikasikannya sebagai kekuasaan Allah. Padahal yang dilihatnya cumalah satu imaginasi dalam kepala sahaja.

Mengapa saya mengatakan ia hanyalah imaginasi? Kerana imaginasi inilah yang membuat kita meleret-leret sehingga tapak selipar, kasut, tayar, logo susu F&N pun dikatakan menyerupai kalimah Allah sehingga menyusahkan pengeluar produk tersebut. Mengapa pula tidak kata itu sebagai kuasa Allah? Bukankah kalimah Allah itu berada di mana-mana bahkan di selipar?

Nabi Musa dan Bani Israel

Apabila diceritakan ‘keajaiban-keajaiban’ seperti ini, saya teringat kisah Nabi Musa dan Bani Israel yang banyak disebutkan Allah dalam Al-Quran. Berbeza dengan para sahabat dan umat Muhammad, Bani Israel perlu disajikan dengan pelbagai mukjizat barulah mereka mahu beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, Musa A.S.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan (AQ 2:50)

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (AQ 2:56)

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (AQ 2:60)

Tapi apakah dengan ‘iman ajaib’ ini membuat mereka menjadi manusia paling bertaqwa? Bahkan mereka juga adalah kaum yang membunuh para nabi dan mengubah isi kandungan kitab Allah.

Berbeza dengan para sahabat yang pernah disabdakan Rasulullah sebagai golongan terbaik, mereka tidak perlu dizahirkan dengan mukjizat-mukjizat untuk mereka melafazkan syahadah. Cukuplah dengan beberapa ayat dari Al-Quran (Saidina Umar) malahan satu kalimah (Saidina Bilal) sudah membuatkan mereka beriman dengan Allah dengan sepenuh hati.

Apakah Kebesaran Allah?

Apakah makna kebesaran Allah bagi kita? Apakah dengan kejadian-kejadian pelik dan ajaib yang mengatasi kebiasaan (khawariqul adat) itu adalah kebesaran Allah? Ataupun fenomena biasa dan normal yang pada pandangan kita adalah amat membosankan itu adalah kebesaran Allah?

Kita lebih mudah mengucap ‘subhanallah’ melihat bayi yang dilahirkan dengan berwajah seperti ular berbanding bayi yang dilahirkan normal.

Kita lebih mudah mengucap ‘subhanallah’ melihat awan yang (kononnya) berbentuk kalimah Allah berbanding melihat awan yang biasa.

Kita lebih mudah mengucap ‘subhanallah’ melihat kubah yang (kononnya) terbang berbanding melihat kubah dipindahkan dengan kren ciptaan inovatif akal manusia kurniaan Allah.

Mengapa mesti dengan perkara pelik dan ajaib baru beriman?

Bagi saya kebesaran Allah itu adalah pada proses kejadian hujan, putaran Bumi yang menghasilkan siang dan malam, perjalanan Bumi mengelilingi matahari yang menghasilkan empat musim, kejadian alam (Big Bang) dan sewaktu dengannya.

Bukan manusia berjalan di atas air, atau ikan bercorak kalimah Allah, atau pokok rukuk dan yang sewaktu dengannya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ali Imran: 190)

Beberapa Fakta

Manusia boleh berjalan di atas air dengan teknik silap mata.

Tidak pernah ada orang bukan Islam memeluk Islam kerana ada kalimah Allah di langit.

Artikel oleh Ahmad Saifuddin Amran
http://msaidhawwa.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s